Ketum IKat Nusantara Irjen Pol (P) Drs Frederik Kalalembang yang juga anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat bersama keluarga dan komunitas Police Toraja hadir nonton bersama Film Solata di Jakarta
JAKARTA — Di tengah derasnya arus hiburan modern, sebuah film sederhana berjudul “Solata” muncul membawa pesan yang menyentuh, yakni tentang pendidikan, kemanusiaan, dan harapan yang tumbuh dari pegunungan terpencil di Tana Toraja.
Bukan sekadar tontonan, film ini menghadirkan cermin kehidupan tentang perjuangan seorang guru relawan dan anak-anak yang bermimpi di tengah keterbatasan.
Dari kisah itulah, muncul seruan dari tokoh Toraja yang juga Ketua Umum Ikatan Keluarga Toraja Nusantara (IkaT Nusantara), Irjen Pol (P) Drs. Frederik Kalalembang, yang mengajak masyarakat Toraja di mana pun berada untuk menonton dan memaknai film Solata sebagai inspirasi nyata untuk membangun daerah.
“Film Solata mengingatkan kita bahwa di balik pemandangan indah Ollon, masih ada anak-anak yang belajar dengan sarana terbatas, jaringan internet yang lemah, dan akses jalan yang sulit. Karena itu, pemerintah daerah perlu menjadikannya momentum untuk merencanakan program nyata bagi daerah tersebut,” ujar Frederik Kalalembang di Jakarta, usai menggelar nonton bersama komunitas Police Toraja di Ibu Kota.

Tampak hadir pula tokoh Toraja Komjen Pol (P) Verdianto Bitticaca yang saat ini menjabat sebagai Dewan Pengawas Perum Bulog yang datang menonton bersama keluarga, dan para Police Akpol yg berdinas di Jakarta atau yang kebetulan berada di Jakarta.
Frederik menyebut, kegiatan nonton bersama itu dilakukan sebagai bentuk refleksi dan kepedulian sosial. “Kami dari Police Toraja yang ada di Jakarta meluangkan waktu untuk menonton bersama, sekalipun masih ada rekan-rekan yang tidak sempat hadir karena dinas,” tambahnya.

Film yang Menyentuh Nurani
Film Solata, karya sutradara Ichwan Persada, bercerita tentang Angkasa, seorang guru relawan dari Jakarta yang mencari makna hidup di pegunungan Ollon. Di tempat terpencil itu, ia menemukan cinta baru terhadap kehidupan melalui anak-anak yang penuh semangat belajar meski serba terbatas.

Kata “Solata” dalam bahasa Toraja berarti teman, melambangkan makna persahabatan dan kekuatan untuk saling menguatkan dalam keterbatasan.
Melalui latar pemandangan Ollon yang menakjubkan, film ini mengajak penonton merenungkan kontras antara keindahan alam dan ketertinggalan fasilitas dasar, dari sekolah sederhana, akses pendidikan yang sulit, hingga minimnya infrastruktur digital. Frederik menilai, pesan itu sangat relevan bagi masyarakat Toraja masa kini.

“Film ini bukan hanya menggugah emosi, tapi juga menyadarkan kita bahwa masih banyak wilayah di Toraja yang perlu disentuh oleh program nyata. Pendidikan, jaringan internet, dan infrastruktur jalan harus menjadi prioritas,” tegasnya.
Dorongan bagi Pemerintah Daerah
Frederik juga mengajak pemerintah daerah di Tana Toraja dan Toraja Utara menjadikan film ini sebagai titik tolak untuk menyusun program pembangunan terpadu di kawasan Ollon. Menurutnya, keindahan alam Ollon harus menjadi kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat, bukan sekadar objek wisata yang viral di media sosial.

“Ini waktunya pemerintah daerah menyiapkan program Ollon secara terpadu, mulai dari akses jalan, sekolah, jaringan internet, hingga pemberdayaan masyarakat lokal. Jangan sampai Ollon hanya dikenal karena filmnya, tapi tetap terisolasi dalam kenyataan,” tutur anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat itu.
Pesan Moral dari SOLATA
Film Solata menghadirkan pesan mendalam, bahwa keluarga tidak selalu lahir dari darah, tetapi dari persahabatan yang tulus dan perjuangan bersama. Kisah Angkasa dan murid-muridnya menggambarkan nilai kasih, keteguhan, dan optimisme dalam menghadapi hidup, nilai-nilai yang juga menjadi filosofi orang Toraja.
Frederik berharap, semangat film ini dapat diterjemahkan dalam aksi nyata. “Mari kita jadikan film ini bukan sekadar tontonan, tapi panggilan untuk berbuat. Karena makna Solata sejatinya adalah persahabatan yang menggerakkan perubahan,” pungkasnya. (*)

