Dana Rappoport, etnomusikolog dari Universitas Paris X-Nanterre berfoto bersama sesaat setelah acara nonton bersama Film dokumenter Hilangnya Pujangga Dewa sekaligus peluncuran website Budaya Toraja, di Kelapa Gading Jakarta Utara, Sabtu, 15/11/2025.
Jakarta, Film dokumenter Hilangnya Pujangga Dewa karya etnomusikolog dan peneliti budaya, Dana Rappoport, ditayangkan dalam sebuah acara nonton bersama sekaligus peluncuran website Budaya Toraja di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Sabtu (15/11/2025). Acara yang dihadiri para pemerhati budaya, akademisi, dan komunitas Toraja urban seperti Persatuan Umat Katholik Toraja di Jakarta-Bogor-Depok-Banten dan Cikarang (PUKAT Jabodetabeci). Acara ini sekaligus juga menjadi ruang refleksi atas perjalanan panjang tradisi dan pergulatan identitas masyarakat Toraja di tengah perubahan zaman.

Matius Tandigau, Ketua PUKAT Jabodetabeci, menyampaikan terima kasih atas peran generasi muda OMK (Orang Muda Katolik) PUKAT yang menyelenggarakan acara ini. Ia memberikan apresiasi mendalam kepada Dana Rappoport yang selama lebih dari tiga dekade meneliti, merekam, dan mendokumentasikan ritual-ritual adat di Toraja, termasuk syair-syair yang dilantunkan dalam setiap ritual adat. “Sangat mengesankan karena dokumentasi selama tiga dekade itu ditampilkan utuh, sehingga kita dapat melihat transformasi ritual Rambu Tuka’ dan Rambu Solo’ dari waktu ke waktu dalam hal kesakralan dan makna,” ujar Matius.

Film ini memang menghadirkan dimensi antropologis yang jarang diungkap: perubahan nilai, pergeseran keyakinan, dan memudarnya peran pemangku adat seiring modernitas dan migrasi religius. Rappoport menegaskan bahwa visinya adalah menampilkan secara utuh pergulatan batin dan keunikan seorang tokoh sentral dalam film, Ne’ Lumbaa, seorang tominaa (imam Aluk Todolo) yang sepanjang hidupnya menjaga kesakralan tradisi leluhur. Lumbaa digambarkan sebagai penjaga terakhir Aluk Todolo yang harus menghadapi derasnya arus konversi ke agama Kristen yang melanda Toraja dalam beberapa dekade terakhir.
“Ne’ Lumbaa bukan hanya tokoh, tetapi simbol dari sebuah dunia yang perlahan hilang,” ujar Rappoport dalam sesi diskusi. Ia menambahkan bahwa film ini didedikasikan untuk mengenang Ne’ Lumbaa, yang wafat pada 2 Februari 2018—menandai berakhirnya garis to minaa yang selama ini berperan menjaga tatanan ritual Aluk Todolo yang diwariskan turun-temurun.

Sesi diskusi juga tak kala menariknya. Yans Sulo Panganna’, imam Diosesan Keuskupan Agung Makassar sekaligus pemeran dalam film. Ia dikenal sebagai salah satu pengkaji syair-syair to minaa. Yans menyoroti kekuatan film ini bukan hanya pada dokumentasi budaya, tetapi pada dimensi humanistik yang menyentuh simpati universal manusia. “Kematian adalah pengalaman yang akan dilalui semua orang, tetapi ketika sebuah tradisi ikut ‘mati’ bersama tokohnya, itu adalah kehilangan nilai universal,” ungkapnya imam yang tak mau disebut to minaa ini.
“Saya hanya seorang imam Katholik yang kebetulan mendalami syair to minaa,” bantah penulis buku Bisikan Suci Passura Toraya ini. Ia menilai film ini berhasil mengangkat duka kultural yang lebih luas—bukan hanya bagi keluarga atau komunitas Aluk Todolo, tetapi bagi seluruh bangsa yang tengah berjuang menjaga keberagaman warisan leluhur.

Acara berlangsung hangat dengan antusiasme peserta yang datang dari berbagai latar belakang. Pemutaran film yang telah meraih penghargaan internasional—di antaranya dari Royal Anthropological Institute (2021) dan ICTM Best Documentary Film Prize (2022)—itu ditutup dengan refleksi mengenai urgensi dokumentasi budaya, khususnya terhadap tradisi yang kian terdesak oleh modernitas.
Melalui film Hilangnya Pujangga Dewa dan peluncuran website Budaya Toraja, penyelenggara berharap hadir ruang pengetahuan baru yang dapat memperkaya pemahaman publik mengenai identitas dan dinamika budaya Toraja, serta mengajak generasi muda terlibat dalam pelestariannya.
To Minaa berbeda dengan Gora-gora Tongkon
Salah satu adegan dalam film Hilangnya Pujangga Dewa yang cukup menarik adalah ketika Ne’ Lumbaa menghadiri ritual adat rambu solo’. Ia memang tak lagi memegang peranan seperti dulu. Kehadirannya di acara ritual rambu solo’ sekedar sebagai simbol. “Mereka mengucapkannya tidak dari hati, liriknya juga tidak pas, seharusnya diucapkan di awal, malah diucapkan di akhir,” ucapnya dengan suaranya dengan lirih membuang muka tanpa semangat. Memberi kesan kesedihan akan kehilangan warisan tradisi lisan yang diturunkan turun-temurun.

“Dari sekitar empat belas ribu bait syair to minaa, kira-kira hanya 25% yang berhasil diteruskan melalui aktivitas profesi Gora-gora Tongkon,” ungkap Yan Sulo. Selain itu, to minaa yang menjalankan fungsi agama Aluk Todolo menurut Yan Sulo, tetap akan melantunkan syair sama baiknya ketika pelayat ramai, sementara Gora-gora Tongkon akan pusing jika mic pengeras suara rusak.
Tak Ada Utang, Tak Ada Relasi Sosial
Saat peserta yang hadir menyingung soal acara rambu solo’ yang mahal hingga harus berhutang, Dana Rappoport tersenyum sambil menyampaikan bantahannya dari sudut pandang akademis. Menurutnya orang Toraja hidup untuk berbagi. “Tanpa utang, maka tidak akan ada relasi sosial,” sanggahnya.

Relasi sosial menurutnya menjadi bagian penting dalam pewarisan budaya. Akhirnya, seperti yang dirasakan banyak orang Toraja sendiri saat ini, nilai kesakralan ritual adat telah hilang. Mungkin tampak lebih ramai dibanding puluhan tahun lalu, tapi justru keramaian itu sekedar formalitas belaka sehingga sama sekali tak lagi sakral. “Dulu jika ada ritual rambu solo’ di suatu kampung maka terlarang (baca: pemali) mengadakan ritual rambu tuka’ (baca: syukuran) dalam kampung tersebut secara bersamaan, tetapi sekarang mulai tidak terlalu dipedulikan,” tutupnya.

Akhirnya kita sadar, yang hilang dari antara orang Toraja ternyata bukan hanya Pujangga Dewa, melainkan juga ketorajaan itu sendiri. Hilang seperti batang bambu terakhir yang menunggu giliran ditebang untuk sebuah pesta, di kampung sebelah. []

