Memperkuat Identitas Budaya Toraja, PUKAT Jabodetabek-CB Rayakan Misa Inkulturasi

Foto bersama PUKAT Jabodetabek-CB seusai misa inkulturasi budaya Toraja di Gereja Katolik St. Arnoldus Janssen, Bekasi, Sabtu, 22/11/2025. Misa dipersembahkan Romo Gerris Rantetana, SX dan Antonius Dwi Cahyono, SVD. (Foto: Istimewa)

BEKASIDentangan gandang sesekali menyelah iringan organ, menambah khidmat ruang Gereja Katolik St. Arnoldus Janssen, Bekasi, Sabtu sore itu (22/11/2025). Di antara aroma dupa dan cahaya lilin yang lembut, barisan umat berbusana adat Toraja memasuki gereja dengan langkah teratur. Sekitar 400 umat Katolik asal Toraja yang kini hidup dan bekerja di wilayah Jabodetabek, Cikarang, dan Banten berkumpul dalam satu momen yang jarang terjadi: misa inkulturasi budaya Toraja. Misa Inkulturasi ini digagas oleh Persekutuan Umat Katolik Toraja (PUKAT) Jabodetabek-Cikarang-Banten.

Perarakan masuk yang diiringi tarian dengan baju adat Toraja (Foto: Istimewa)

Bagi banyak orang Toraja yang merantau jauh dari tanah kelahiran, misa ini bukan sekadar ibadah. Ia adalah ruang pulang. Sebuah jembatan antara ingatan masa kecil di lembah-lembah Sa’dan dan realitas perkotaan modern yang hiruk pikuk. “Meoli komu,” begitu sapaan akrab yang terdengar dari sana-sini—sebuah ungkapan yang bukan hanya salam, melainkan juga pengikat rasa: kita satu, kita sebangsa nilai, kita serumah iman.

Suasana perayaan misa inkulturasi di Gereja Katolik St. Arnoldus Janssen, Bekasi, Sabtu, 22/11/2025. (Foto: Istimewa)

Umat duduk dalam hening, Romo Geris Rantetana, SX, berkonseleberasi dengan Romo Antonisu Dwi Cahyono SVD memulai misa dengan bahasa liturgi Gereja yang berpadu dengan intonasi dan simbol Toraja. Dalam tulisan refleksinya akan misa inkulturasi ini, Romo Geris menengok ke belakang—mengingat misa inkulturasi Toraja pertama yang ia ikuti di Paroki Bintaro pada 15 September 2019. Sejak itu, ia menyebut, misa serupa terus tumbuh di Gereja Theresia Menteng, Paroki Cibinong, di Toasebio Glodok saat perayaan HUT RI, dan kini di Bekasi.

“Ini bukan soal eksklusivitas. Inkulturasi menjadi penting karena memperkaya liturgi Katolik dengan kekayaan budaya lokal, memperkuat identitas umat Toraja di perantauan, serta mewujudkan semangat Gereja yang inkulturatif dan inklusif,” tulisnya.

(Depan) Ketua PUKAT Jabodetabek-CB Matius Tandigau’ memegang baki berisi sibori dan (belakang) Patrisius Batara Randa saat perayaan ekaristi. Keduanya Pengurus Pusat Ikatan Keluarga Toraja (IkaT) Nusantara. (Foto: Istimewa)

Di bangku-bangku gereja, umat mengenang kampung halaman; sebagian lagi merasakan sentuhan iman yang lebih dekat dengan pengalaman hidup mereka. Bagi generasi muda Toraja yang lahir dan besar di Jakarta, momen ini menjadi pelajaran penting: menjadi Katolik tidak harus berarti meninggalkan budaya. Budaya bukan ornamen; ia identitas, memori, dan spiritualitas tubuh kolektif.

Romo Antonius Dwi Cahyono SVD, yang turut memberikan refleksi, menegaskan hal itu melalui pendekatan teologis yang sederhana namun kuat: budaya Toraja dengan ritual rambu tuka’ dan rambu solo’ sesungguhnya telah lama berbicara tentang misteri kehidupan, kematian, dan kebangkitan—makna inti Paskah dalam bahasa Gereja.

Selain ruang liturgi, misa inkulturasi Toraja juga menjadi ruang sosial dan emosional. Seusai perayaan, halaman gereja berubah menjadi tempat temu kangen: ada yang saling bertanya kabar, berbagi cerita pekerjaan, atau sekadar tertawa mengenang masa kecil di kampung.

Di Keuskupan Agung Jakarta sendiri, misa inkulturasi dari beragam budaya kini semakin mendapat ruang—mulai dari Batak, Flores, Jawa, Papua, hingga Toraja. Fenomena ini menunjukkan arah baru Gereja: bukan sekadar tempat ibadah, tetapi ruang dialog budaya dan persekutuan lintas identitas.

Suasana perayaan misa inkulturasi di Gereja Katolik St. Arnoldus Janssen, Bekasi, Sabtu, 22/11/2025. (Foto: Istimewa)

Ketua PUKAT Jabodetabek-CB, Matius Tandigau’ mengapresiasi peran PUKAT Bekasi yang telah mempersiapkan pelaksanaan misa inkulturasi di Gereja Katolik St. Arnoldus Janssen, khususnya Pak Bartho Tangdibali sehingga berjalan dengan baik. “Misa inkulturasi ini memperkenalkan bagaimana menghayati iman dalam dalam bingkai budaya toraja, sebagai bagian dari kekayaan nasional dan di budaya nusantara,” jelasnya.

Hadir dalam misa tersebut sejumlah pengurus PUKAT Jabodetabek-CB, umat dan Orang Muda Katolik (OMK) PUKAT yang benyak mengambil peran dalam pelaksanaan acara-acara PUKAT maupun yang berhubungan dengan budaya Toraja.

Setelah perayaan misa, dilanjutkan dengan ramah tamah di Aula Paroki. Sajian makanan khas Toraja seperti pa’piong, pokon, deppa tori’, menjadi menu utama. Lalu acara makan bersama seperti biasanya: makan – tertawa sambil mengenang hari-hari lalu di kampung halaman.

(Kiri) Barto Tangdibali yang juga Pengurus Pusat IkaT Nusantara terlibat aktif di PUKAT Bekasi mempersiapkan perayaan misa inkulturasi berfoto bersama Romo Gerris Rantetana, SX (tengah) dan Romo Antonius Dwi Cahyono SVD (paling kanan). (Foto: Istimewa)

Gelap telah menyelimuti langit Bekasi ketika umat perlahan beranjak pulang. Namun sesuatu tinggal di udara—sebuah rasa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Misa inkulturasi Toraja hari itu bukan hanya tentang nostalgia. Ia adalah gerak iman. Sebuah usaha mempertahankan identitas budaya tanpa menutup perjumpaan dengan Kristus. Sebuah kesaksian bahwa tradisi bisa berjalan berdampingan dengan iman —tanpa saling meniadakan.

Di tengah ritme kota yang serba cepat, misa ini menjadi jeda untuk kembali mengingat siapa kita, dari mana kita berasal, dan kepada siapa kita kembali. Pada akhirnya, inkulturasi bukan hanya upaya melestarikan budaya—tetapi merayakan iman dengan bahasa yang paling dekat dengan hati manusia, yakni budaya. [red]

Related posts